Tahukah Anda! Sekitar 7000 orang Indonesia yang berbahasa Perancis saat ini tinggal di suatu tempat, tepatnya di New Caledonia (Kaledonia Baru) dan mereka merupakan bagian sejarah Indonesia yang kurang begitu terkenal. Adalah Djintar Tambunan – berumur 65 dan masih bekerja sebagai seorang insinyur di Noumea, ibukota Kaledonia Baru, merupakan anggota dari sebuah minoritas yang tidak biasa. Dia salah satu dari orang Indonesia yang sangat sedikit di Kaledonia Baru yang masih fasih berbahasa Indonesia. Istrinya Soetina yang orang Jawa tidak, demikian pula dengan ke dua anaknya yang sudah dewasa. Seperti kebanyakan teman-teman Indonesia mereka, bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Perancis. Lahir di Belige, di tepi Danau Toba, Sumatera Utara, pada tahun 1945, Tambunan (begitu dia lebih suka dipanggil) dipindahkan ke Pulau Pasifik Kaledonia Baru selama booming pertambangan di tahun 1970. Dia datang untuk bekerja di perusahaan konstruksi besar Citra yang masih ada hingga sekarang. Dia menggambarkan dirinya sebagai bagian dari ‘gelombang ketiga‘ dari emigran Indonesia. Lalu siapa kemudian yang disebut sebagai ‘gelombang pertama’ dan ‘gelombang kedua‘ dari emigran Indonesia, dan apa yang mereka lakukan di Kaledonia Baru? Menurut Djintar Tambunan, dari 7000 atau lebih orang Indonesia yang saat ini tinggal di sana, merupakan bagian dari sebuah ‘bab’ yang relatif kurang dikenal dalam sejarah Indonesia. Seperti sejarah orang Jawa di Suriname – Amerika Selatan dan juga orang Melayu di Cape Malays – Afrika Selatan, ini adalah kisah menarik dari ketegangan yang terjadi ketika terjadi perpindahan populasi ke sebuah lingkungan baru.
Tuesday, September 25, 2012
Ada 7000 orang indonesia berbahasa perancis di suatu tempat
Tahukah Anda! Sekitar 7000 orang Indonesia yang berbahasa Perancis saat ini tinggal di suatu tempat, tepatnya di New Caledonia (Kaledonia Baru) dan mereka merupakan bagian sejarah Indonesia yang kurang begitu terkenal. Adalah Djintar Tambunan – berumur 65 dan masih bekerja sebagai seorang insinyur di Noumea, ibukota Kaledonia Baru, merupakan anggota dari sebuah minoritas yang tidak biasa. Dia salah satu dari orang Indonesia yang sangat sedikit di Kaledonia Baru yang masih fasih berbahasa Indonesia. Istrinya Soetina yang orang Jawa tidak, demikian pula dengan ke dua anaknya yang sudah dewasa. Seperti kebanyakan teman-teman Indonesia mereka, bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Perancis. Lahir di Belige, di tepi Danau Toba, Sumatera Utara, pada tahun 1945, Tambunan (begitu dia lebih suka dipanggil) dipindahkan ke Pulau Pasifik Kaledonia Baru selama booming pertambangan di tahun 1970. Dia datang untuk bekerja di perusahaan konstruksi besar Citra yang masih ada hingga sekarang. Dia menggambarkan dirinya sebagai bagian dari ‘gelombang ketiga‘ dari emigran Indonesia. Lalu siapa kemudian yang disebut sebagai ‘gelombang pertama’ dan ‘gelombang kedua‘ dari emigran Indonesia, dan apa yang mereka lakukan di Kaledonia Baru? Menurut Djintar Tambunan, dari 7000 atau lebih orang Indonesia yang saat ini tinggal di sana, merupakan bagian dari sebuah ‘bab’ yang relatif kurang dikenal dalam sejarah Indonesia. Seperti sejarah orang Jawa di Suriname – Amerika Selatan dan juga orang Melayu di Cape Malays – Afrika Selatan, ini adalah kisah menarik dari ketegangan yang terjadi ketika terjadi perpindahan populasi ke sebuah lingkungan baru.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment